Jumat, 03 Januari 2014

KEMANA PERGINYA INTELEKTUAL MUSLIM RIAU? Sebuah Catatan Jakarta International Conference of Muslim Intellectual (JICMI)


Pendahuluan
Sistem pemerintahan yang semakin menyengsarakan menjadi tontonan lumrah di tengah-tengah masyarakat saat ini. Kondisi ini menjangkiti semua aspek kehidupan umat, baik itu dalam aspek politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya. Secara global yel-yel perpolitikan dibangun atas dasar kesejahteraan yang berasaskan demokrasi justru yang terjadi berbanding terbalik yaitu penindasan terhadap masyarakat. Korupsi tumbuh subur, masyarakat sejahtera dalam garis kemiskinan, birokrasi tidak mampu tumbuh secara efisien, pelayanan  masyarakat yang semakin sulit dan dibawah standar minimum.
Dalam aspek ekonomi. Tingkat industrialisasi yang sangat tinggi di dunia Barat, juga China dan India, telah membuat mereka justru mampu memproduksi jauh lebih efisiensi, dari dunia Islam (Fahmi Amhar). Sama halnya, kekayaan alam Riau masih saja dikelola oleh Chevron, pemerintah secara tidak langsung menjual aset negera, memposisikan penduduk asli Riau tidak berhak atas kekayaan yang ada pada wilayahnya. Dan hampir semua perkebunan kelapa sawit dikuasai kaum kapitalis, masyarakat local adalah penikmat dari sisa-sisa ketamakan sistem tersebut.
Dalam aspek pendidikan, sistem kurikulum pendidikan menerapkan kurikulum dengan sistem sekuler-kapitalis. Dampaknya, muncul-lah kaum-kaum intelektual yang individualis dan hedonis.  Biaya pendidikan yang semakin mahal, masyarakat miskin tidak layak untuk menempuh jenjang pendidkan dalam berbagai tingkatan. Untuk sebuah kesehatan masyarakat harus membayar begitu mahal, sehingga slogan orang miskin dilarang sakit menjadi hal yang wajar saja.  Dan ditambah dengan angka kematian ibu dan anak semakin meningkat dalam setiap tahunnya.
Kemajuan teknologi yang terjadi pada saat ini berbanding terbalik dengan peradaban yang terbentuk. Pendidikan dan teknologi bisa berkembang maju, namun hal tersebut tidak berimbas pada kemudahan hidup. Kemajuan teknologi hanya dinikmati oleh segelintir orang kaya, sementara mayoritas masyarakat tidak mampu menikmatinya karena tidak sanggup membayar harganya. Disamping itu peradaban yang terbentuk adalah peradaban rusak, dimana liberalisme terjadi dimana-mana atas nama kebebasan sehingga bentukan peradaban cacat saat ini menyengsarakan jutaan umat manusia (Kontribusi Intelektual Muslim dalam mewujudkan Kebangkitan Pradaban Islam: Muslimah hizbut tahrir tangsel)
Masalah dan kondisi di atas bukanlah omong kosong belaka, inilah kondisi kekinian  saat ini. Dan seperti Ini jualah kondisi negeri Riau saat ini. Lalu bagaimana peran kaum intelektual muslim Riau dalam peradaban umat saat ini? Apakah mereka tidur? atau mengungsi di negeri antah berantah? atau justru hanyut dengan sistem sekularisme kapitalisme? Padahal saat peradaban Islam berjaya, semangat untuk memburu ilmu amat kentara. Sejarah Islam di dunia mengabarkan bagaimana tradisi intelektual jadi ruh setiap peradaban yang dibangun. Mulai Jazirah Arab, Timur Tengah, Afrika Utara, India, hingga Eropa. Penguasaan ilmu pengetahauan menjadi salah satu pilar penyangga kecermelangan peradaban islam. Pada masa kekhilafahan, jerih payah kaum intelektual dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran masyarakat atas dasar taqwa dengan tujuan mendapat pahala amal shalih. Selama ribuan tahun peradaban emas Khilafah Islam mampu mensejahterakan umat manusia.
Karateristik Islam
Islam adalah aqidah yang luhur; salah satu ciri utamanya ialah bahwa Islam membangkitkan dalam jiwa Mukmin perasaan harga diri tanpa rasa sombong, jiwa percaya diri sendiri tanpa membanggakan diri, rasa ketentraman jiwa tanpa sifat fanatisme, dan bahwa Islam menanamkan pada jiwa pemeluknya perasaan tanggung jawab kemanusiaan, tanggung jawab membimbing bangsa-bangsa yang tersesat serta mengarahkannya kepada agama yang benar, jalan yang lurus, dan membebaskannya dari kegelapan menuju cahaya terang dan cahaya petunjuk dan bimbingan yang diturunkan oleh Allah kepada mereka.
Islam juga mengandung sumber-sumber energi rohaniyah dan aqliyah yang apabila dipergunakan sebaik-baiknya akan membawa kepada “The Glory of The Future” (Kejayaan Masa Depan). Bukan hanya untuk umat Islam sendiri saja akan tetapi sebagaimana difirmankan oleh Allah yaitu juga bagi seluruh alam semesta. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(QS. Al-Anbiyaa’ [21] : 107).

Kaum Intelektual dalam Islam
Islam menyebutkan bahwa akal memegang peranan penting. Seseorang belum dapat dikatakan beriman dengan sempurna jika ia tidak menggunakan akalnya dalam beragama. Hal ini yang menjadi sumbu utama percepatan umat islam dalam membangun peradaban ini dapat dimulai dari dakwah islam dalam membangun peradaban.
Lalu bagaimana peran kaum intelektual muslim? Kaum intelektual-lah yang memiliki peran strategis dalam membangun peradaban manusia. Apa itu intelektual? Intelektual adalah orang yang menggunakan kecerdasan untuk bekerja, belajar, pengagas atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Kaum intelektual adalah orang yang senantiasa perfikir, mengembangkan dan menyumbangkan gagasannya untuk kesesejahteraan masyarakat luas. Dan inilah saatnya kaum intelektual muslim Riau bersatu mempergunakan ilmu dan ketajaman pikirannya untuk mengkaji, menganalisis, merumuskan segala perkara dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat di mana ia hadir khususnya dan di peringkat global umum untuk mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu.
Wahai kaum intelektual muslim Riau, mari bersama-sama kita sonsong kebangkitan peradaban Islam, dengan menyatukan visi dan misi untuk sebuah perubahan yang mendasar dalam menegakkan syariat Islam sehingga peradaban islam kembali berjaya. Songsong dengan dekapan ukhuwah Islamiyah dengan mengerahkan segala potensi yang kita miliki. Karena hanya orang-orang yang berilmu yang dengan ilmunya semakin tawadhu, yang dengan ilmunya mereka semakin takut dengan Allah. Gunakan potensi intelektual mu dengan menebar benih-benih kehidupan Islam. Dan dengan kekuatan lisan dan penalah kaum intelektual dapat menyebarkan opini tentang Islam yang Rahmatan Lilallamin. Karena islamlah satu-satunya ideologi yang mampu menjamin ketenangan dan kesejahteraan dalam hidup umat.
Sehingga opini tersebut mampu menyebar diberbagai aspek kehidupan lain, tidak hanya di kampus, di rumah, di masyarakat luas bahkan dimanapun wilayahnya. Opini ini juga akan mampu membuang keresahan masyarakat, mengubah pola fikir masyarakat menjadi masyarakat yang cerdas yang mampu berfikir jernih dalam cermelang dan bertindak sesuai dengan syariat Islam satu dalam pemikiran, satu dalam perasaan dan satu dalam aturan. 
Wallau a’lam bisshowab.