Pendahuluan
Sistem pemerintahan
yang semakin menyengsarakan menjadi tontonan lumrah di tengah-tengah masyarakat
saat ini. Kondisi ini menjangkiti semua aspek kehidupan umat, baik itu dalam
aspek politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya. Secara global yel-yel perpolitikan
dibangun atas dasar kesejahteraan yang berasaskan demokrasi justru yang terjadi
berbanding terbalik yaitu penindasan terhadap masyarakat. Korupsi tumbuh subur,
masyarakat sejahtera dalam garis kemiskinan, birokrasi tidak mampu tumbuh
secara efisien, pelayanan masyarakat
yang semakin sulit dan dibawah standar minimum.
Dalam aspek ekonomi.
Tingkat industrialisasi yang sangat tinggi di dunia Barat, juga China dan
India, telah membuat mereka justru mampu memproduksi jauh lebih efisiensi, dari
dunia Islam (Fahmi Amhar). Sama halnya, kekayaan alam Riau masih saja dikelola oleh
Chevron, pemerintah secara tidak langsung menjual aset negera, memposisikan penduduk
asli Riau tidak berhak atas kekayaan yang ada pada wilayahnya. Dan hampir semua
perkebunan kelapa sawit dikuasai kaum kapitalis, masyarakat local adalah
penikmat dari sisa-sisa ketamakan sistem tersebut.
Dalam aspek pendidikan,
sistem kurikulum pendidikan menerapkan kurikulum dengan sistem sekuler-kapitalis.
Dampaknya, muncul-lah kaum-kaum intelektual yang individualis dan hedonis. Biaya pendidikan yang semakin mahal,
masyarakat miskin tidak layak untuk menempuh jenjang pendidkan dalam berbagai
tingkatan. Untuk sebuah kesehatan masyarakat harus membayar begitu mahal,
sehingga slogan orang miskin dilarang sakit menjadi hal yang wajar saja. Dan ditambah dengan angka kematian ibu dan
anak semakin meningkat dalam setiap tahunnya.
Kemajuan teknologi yang terjadi pada saat ini berbanding
terbalik dengan peradaban yang terbentuk. Pendidikan dan teknologi bisa
berkembang maju, namun hal tersebut tidak berimbas pada kemudahan hidup. Kemajuan
teknologi hanya dinikmati oleh segelintir orang kaya, sementara mayoritas
masyarakat tidak mampu menikmatinya karena tidak sanggup membayar harganya.
Disamping itu peradaban yang terbentuk adalah peradaban rusak, dimana
liberalisme terjadi dimana-mana atas nama kebebasan sehingga bentukan peradaban
cacat saat ini menyengsarakan jutaan umat manusia (Kontribusi Intelektual
Muslim dalam mewujudkan Kebangkitan Pradaban Islam: Muslimah hizbut tahrir
tangsel)
Masalah dan kondisi di atas bukanlah omong kosong belaka,
inilah kondisi kekinian saat ini. Dan
seperti Ini jualah kondisi negeri Riau saat ini. Lalu bagaimana peran kaum
intelektual muslim Riau dalam peradaban umat saat ini? Apakah mereka tidur?
atau mengungsi di negeri antah berantah? atau justru hanyut dengan sistem sekularisme
kapitalisme? Padahal saat peradaban Islam berjaya, semangat untuk memburu ilmu
amat kentara. Sejarah Islam di dunia mengabarkan bagaimana tradisi intelektual
jadi ruh setiap peradaban yang dibangun. Mulai Jazirah Arab, Timur Tengah,
Afrika Utara, India, hingga Eropa. Penguasaan ilmu pengetahauan menjadi salah
satu pilar penyangga kecermelangan peradaban islam. Pada masa kekhilafahan,
jerih payah kaum intelektual dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran
masyarakat atas dasar taqwa dengan tujuan mendapat pahala amal shalih. Selama
ribuan tahun peradaban emas Khilafah Islam mampu mensejahterakan umat manusia.
Karateristik Islam
Islam adalah aqidah yang luhur; salah satu ciri utamanya
ialah bahwa Islam membangkitkan dalam jiwa Mukmin perasaan harga diri tanpa
rasa sombong, jiwa percaya diri sendiri tanpa membanggakan diri, rasa
ketentraman jiwa tanpa sifat fanatisme, dan bahwa Islam menanamkan pada jiwa
pemeluknya perasaan tanggung jawab kemanusiaan, tanggung jawab membimbing bangsa-bangsa
yang tersesat serta mengarahkannya kepada agama yang benar, jalan yang lurus,
dan membebaskannya dari kegelapan menuju cahaya terang dan cahaya petunjuk dan
bimbingan yang diturunkan oleh Allah kepada mereka.
Islam juga mengandung sumber-sumber energi rohaniyah dan
aqliyah yang apabila dipergunakan sebaik-baiknya akan membawa kepada “The Glory
of The Future” (Kejayaan Masa Depan). Bukan hanya untuk umat Islam sendiri saja
akan tetapi sebagaimana difirmankan oleh Allah yaitu juga bagi seluruh alam semesta.
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam.”(QS. Al-Anbiyaa’ [21] : 107).
Kaum
Intelektual dalam Islam
Islam menyebutkan bahwa akal memegang peranan penting.
Seseorang belum dapat dikatakan beriman dengan sempurna jika ia tidak
menggunakan akalnya dalam beragama. Hal ini yang menjadi sumbu utama percepatan
umat islam dalam membangun peradaban ini dapat dimulai dari dakwah islam dalam
membangun peradaban.
Lalu bagaimana peran
kaum intelektual muslim? Kaum intelektual-lah yang memiliki peran strategis
dalam membangun peradaban manusia. Apa itu intelektual? Intelektual adalah
orang yang menggunakan kecerdasan untuk bekerja, belajar, pengagas atau menyoal
dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Kaum intelektual adalah orang
yang senantiasa perfikir, mengembangkan dan menyumbangkan gagasannya untuk
kesesejahteraan masyarakat luas. Dan inilah saatnya kaum intelektual muslim
Riau bersatu mempergunakan ilmu dan ketajaman pikirannya untuk mengkaji,
menganalisis, merumuskan segala perkara dalam kehidupan manusia, terutama
masyarakat di mana ia hadir khususnya dan di peringkat global umum untuk
mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu.
Wahai kaum intelektual
muslim Riau, mari bersama-sama kita sonsong kebangkitan peradaban Islam, dengan
menyatukan visi dan misi untuk sebuah perubahan yang mendasar dalam menegakkan syariat
Islam sehingga peradaban islam kembali berjaya. Songsong dengan dekapan ukhuwah
Islamiyah dengan mengerahkan segala potensi yang kita miliki. Karena hanya orang-orang
yang berilmu yang dengan ilmunya semakin tawadhu, yang dengan ilmunya mereka
semakin takut dengan Allah. Gunakan potensi intelektual mu dengan menebar
benih-benih kehidupan Islam. Dan dengan kekuatan lisan dan penalah kaum intelektual
dapat menyebarkan opini tentang Islam yang Rahmatan Lilallamin. Karena islamlah
satu-satunya ideologi yang mampu menjamin ketenangan dan kesejahteraan dalam
hidup umat.
Sehingga opini tersebut
mampu menyebar diberbagai aspek kehidupan lain, tidak hanya di kampus, di
rumah, di masyarakat luas bahkan dimanapun wilayahnya. Opini ini juga akan
mampu membuang keresahan masyarakat, mengubah pola fikir masyarakat menjadi
masyarakat yang cerdas yang mampu berfikir jernih dalam cermelang dan bertindak
sesuai dengan syariat Islam satu dalam pemikiran, satu dalam perasaan dan satu
dalam aturan.
Wallau a’lam bisshowab.